Ini Pandangan Akademisi STKIP Soal VISI Cakada Sula Harus Objektif dan Terukur

TERNATE – Akademis STKIP Kie Raha Ternate Masayu Gay, M.Pd menilai ada tugas besar yang nantinya akan dihadapi Calon Kepala Daerah (Cakada) Kepulauan Sula terpilih dimasa kepemimpinan tahun 2020 – 2024 yang akan datang. Bahkan itu merupakan tugas berat.

Menurutnya, tugas pertama Cakada terpilih yaitu membawa Sula keluar sebagai daerah tertinggal seperti tertuang dalam Perpres Nomor 63 Tahun 2020. Karena itu, melalui siaran pers rilis Masayu mengungkapkan, Cakada yang ada saat ini haru memiliki visi dan misi yang jelas dan terukur. Terpenting membangun Sula ke depan berbasis data akademik dan yuridis,”tulisnya, Senin, (28/09/20).

“Kewenangan mengatur daerah sendiri melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 harus dimaksimalkan, kata Masayu, Rakyat Sula menanti adanya perubahan dari berbagai sektor, terutama sektor, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Tak hanya itu, perlu juga memperhatikan beberapa hal mendasar dalam konteks membangun Kepulauan Sula sebagai daerah tertinggal, sekaligus mempersiapkan pekerjaan kepala daerah terpilih lima tahun ke depan.

Karena itu, dalam pembangunan daera yang perlu di perhatikan yaitu, Pada bagian pertama, Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai salah satu indikator majunya daerah, SDM perlu diperioritaskan oleh Pemda Sula. Karena produktivitas kerja yang tinggi itu akan dihasilkan dari manusia yang terampil. Bukan berarti mengabaikan pembangunan fisik. Akan tetapi, perlu ada skala prioritas dan mendesak.

Kedua, adanya good governance, terutama pelayanan publik. Aspek ini terkait banyak hal. Salah satunya adalah pelayanan yang cepat, efektif, efisien, dan transparan baik di tingkat birokrasi, pendidikan, maupun kesehatan yang berbasis teknologi.

Ketiga, industrialisasi sektor ekonomi masyarakat. Konsep ekonomi ini perlu dipikirkan, sebab SDA berupa kelautan, pertanian, dan peternakan belum dikelola secara real untuk menggerakkan roda ekonomi rakyat.

Padahal, Daerah Kepulauan Sula memiliki SDA berupa perikanan dan perkebunan yang sangat potensial. Hanya saja belum diindustrialisasi dengan teknologi serta formula yang tepat. Sebetulnya, sektor perikanan sangat menjanjikan. Hanya saja ada empat hal yang masih menjadi kendala: (1) kondisi laut sering bergelombang, (2) teknologi penangkapan, (3) alat produksi, dan (4) pemasaran. Hal yang sama pada sektor pertanian dan produksinya.

Dalam sistem bercocok tanam, masyarakat Sula terkendala tiga hal, yaitu (1) pengetahuan bertani, (2) teknologi pertanian, dan (3) pemasaran. Kendala sektor peternakan sama seperti kelautan dan pertanian

Keempat, membuka UMKM bagi anak muda. Ke depan Pemda membuat skema bantuan untuk UMKM agar dapat mengatasi kemiskinan, berpeluang membuka lapangan kerja, dan menambah PAD. Beberapa kasus UMKM bangkrut karena pola pendampingan dan evaluasi tidak jalan di tingkat bawah.

Kelima, partisipasi publik. Kita membutuhkan tatanan kehidupan sosial baru yang dinamis dan responsif terhadap perkembangan global. Kita masih lemah secara modal sosial (social capital). Kita perlu mereduksi kehidupan sosial sebagai kekuatan untuk membangun.

Kehidupan sosial tidak sekedar kerumunan, apalagi disoriented. Masyarakat harus sadar bahwa ada visi besar daerah yang harus dicapai bersama. Dalam konteks budaya, ada kebiasaan masih kental distruktif yang sudah terbentuk sebagai perilaku.

Keenam, reorientasi politik. Masyarakat perlu memahami bahwa politik adalah metode untuk mendistrupsi kehidupan yang makmur dan damai. Karena itu, mindset politik praktis harus diubah secara totalitas.(*)

863 View

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *