Sjahrir : Nasib Malang Seorang Pahlawan

TERNATE –  Sjahrir pemuda asal Minangkabau yang anti feodalisme, dan memiliki tekat yang amat kuat serta tak mengenal kompromi. Mungkin watak ini ia warisi dari ibunya Siti Rabiah, seorang perempuan Minang bercampur Natal yang memiliki pendirian kuat.

Kelahiran Sjahrir menurut Rudolf Mrazek dalam bukunya yang bertajuk Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia (1996). Ia mengatakan bahwa Sjahrir lahir di Padang Panjang 5 Maret 1909, tepatnya di perumahan jaksa Air Matakucing, dari sepasang suami istri Siti Rabiah dan Mohammad Rasad.

Kehidupan Sjahrir dimulai saat ia pindah ke Medan. Di Medan Sjahrir merintis kecerdasannya di usia enam tahun, melalui sekolah Europeesche Lagere School (Sekolah Rendahan Eropa) pada 1915. Selain memburu pengetahuan di sekolah Europeesche Lagere School, Sjahrir pun mendalami ilmu-ilmu agama di tempat pengajian.

Dalam perjalanan merintis kecerdasannya. Sjahrir kehilangan sosok Rabiah ibu tercinta di usianya yang ketiga belas tahun. Sosok Rabiah bagi Sjahrir adalah perempuan tangguh dan berkomitmen tinggi, namun kini telah tiada. Selepas kematian ibunya, keluarga Sjahrir mulai menyebar kebeberapa kota.

Sjahrir dan adiknya Mahroezar memilih pinda ke Bandung pada kurun waktu 1926. Bagi Sjahrir, Medan dan Bandung itu tidak jauh berbeda, jika dilihat dari aspek kebudayaannya. Bahkan Bandung lebih kosmopolitan ketimbang Medan, jumlah sekolah pun sangat banyak dan terkemuka. Hal ini yang membuat Bandung sedikit maju jika dibandingkan dengan Medan.

Di Bandung, Sjahrir memilih bersekolah di Algemene Middelbare School (AMS) bagian Barat Kelasik (jurusan calon jaksa). Pertama kali masuk sekolah AMS Sjahrir tidak menunjukan sisi kecerdasannya, bahkan menjadi murid yang amat pendiam. Namun seiring berjalannya waktu, Sjahrir pun mulai menampakan kecerdasannya, mulai dari kemahiran berdebat dengan guru, kemudian sifatnya yang pemberani, hingga pandai bergaul.

Bandung merupakan kota yang menjadikan Sjahrir sebagai seorang nasionalis yang gigih dapat kita jumpai lewat penjelasan Des Alwi dalam bukunya yang bertajuk Seri Buku Tempo Sjahrir (2017), bahwa Jiwa nasionalisme Sjahrir pertama kali tumbuh dan bersarang di pikirannya, setelah ia mendegar pidato dari Dr. Tjipto Mangunkusumo seorang tokoh pergerakan zaman itu.

Jiwa nasionalisme itulah yang membuat Sjahrir terlibat dalam pembentukan organisasi yang bernama Himpunan Kaum Nasionalisme (Jong Indonesia), walaupun tidak ditemukan catatan-catatan yang menegaskan, bahwa Sjahrir pernah terlibat dalam pembentukan himpunan tersebut.

Menurut Rudolf Mrazek dalam bukunya, menjelakan bahwa ada bukti yang memperkuat Sjahrir terlibat dalam mendirikan Himpunan Kaum Nasionalisme. Misalnya dalam laporan polisi Bandung, Sjahrir pernah memimpin rapat sekaligus menjabat pemimpin redaksi majalah Himpunan Kaum Nasionalisme. Bukti ini yang memperkuat bahwa Sjahrir terlibat dalam mendirikan organisasi tersebut.

Sjahrir dan Himpuan Kaum Nasionalisme di Bandung hanya berjalan beberapa tahun, sebab Sjahrir memilih berangkat ke Belanda pada 1929-1931, lalu masuk sebagai siswa di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam. Selepas menyelesaikan studinya di Belanda Sjahrir pun pulang ke Jawa pada 1931-1934. (Rudolf Mrazek 1996).

Kepulangan Sjahrir dari Belanda ke Indonesia, menjadi titik permulaan ia di dalam dunia penjara dan pembuangan sebagai tahanan politik. Penjara Cipinang daerah Meester Cornelis sekarang dikenal sebagai Jatinegara, ini tempat pertama Sjahrir di penjara. Setelah dari penjara Cipinang, kemudian Sjahrir dibuang lagi ke Banda Neira pada 1936-1941, Saat berada di Banda. Sjahrir sering menulis surat dan artike, tulisan-tulisan itu mengisahkan tentang sekolah dan masalah-masalah yang ia jumpai di Cipinang, Tanah Merah, hingga ke Banda.

Perjuangan sang bung kecil kepada bangsa ini cukuplah besar, rela di penjara dan dibuang kebeberapa pulau, mulai dari Belanda hingga pasca-kemerdekaan. Di sinilah kita dapat melihat bahwa Sjahrir adalah seorang yang gigih dalam dunia perlawanan.
Pada 1962 menjadi tahun-tahun terakhir Sjahrir menulis dalam penjara maupun rumah sakit, dan tulisannya yang terakhir dapat kita jumpai lewat beberapa karyanya, mulai dari Perbandingan karya Max Weber tentang esai sosiologi dan buku-buku lainnya yang tak dapat saya sebut di sini.

Di akhir tahun 1964. Sjahrir menderita penyakit berat hingga tak mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun lewat tulisan. Kondisi inilah yang membuat Poppy istri Sjahrir memberanikan diri untuk mengirimi Sukarno selembar surat, memohon belas kasihan agar suaminya dapat diizinkan untuk berobat keluar negeri, sebab penyakitnya semakin parah, bahkan di akhir surat Poppy menegaskan bahwa kini Sjahrir tak lagi berbahaya.

Surat pun tiba di tangan Sukarno, lalu Sjahrir diizinkan pergi berobat keluar negeri dengan persyaratan, tak boleh berkunjung ke Negeri Belanda dengan dalil apa pun, jika melanggar maka ia harus dikembalikan ke Indonesia.

Selepas mendapatkan izin dari Sukarno, Sjahrir kemudian dibawa menuju Swiss untuk berobat dengan tujuan agar dapat segera pulih dari penyakitnya. Namun kehendak berbicara lain, Sjahrir seorang yang begitu gigih dalam memperjuangkan bangsa ini harus menutup usia di negeri orang (Swiss).

Penulis : Andi Naser
Pegiat Literasi Independensia, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Info : Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Tvonlinetidore.net ***

 

 

 

 

 

255 View



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *