Publik Apresiasi BPBD Tidore Kepulauan dalam Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi

oleh -24 Dilihat
oleh

TIDORE — Upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tidore Kepulauan dalam memperkuat mitigasi bencana terus menuai apresiasi publik. Pengembangan dan optimalisasi Sistem Informasi Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) dinilai menjadi langkah strategis dalam meminimalisir risiko korban jiwa maupun kerugian materiil, khususnya menghadapi ancaman bencana alam yang kerap terjadi di wilayah kepulauan.

Apresiasi tersebut muncul seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kerentanan wilayah Maluku Utara, termasuk Tidore Kepulauan, yang setiap akhir tahun hingga Januari rawan dilanda banjir, longsor, gelombang laut tinggi, bahkan potensi tsunami. Dalam konteks itu, kehadiran sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap kebijakan.

Salah satu poin penting yang mendapat sorotan adalah peningkatan efektivitas EWS melalui pemanfaatan teknologi digital. BPBD Kota Tidore Kepulauan telah memasang perangkat peringatan dini digital di sejumlah titik rawan banjir. Sistem ini terintegrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Bencana (SIMBA), yang memungkinkan penyampaian peringatan secara cepat dan langsung kepada masyarakat melalui aplikasi WhatsApp.

Langkah tersebut dinilai sebagai terobosan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan karakter masyarakat. Informasi kebencanaan tidak lagi terjebak pada pola lama yang lambat, tetapi bergerak dalam ritme kebutuhan warga di lapangan.

Tak hanya itu, BPBD Tidore Kepulauan juga diapresiasi karena menjadikan penerapan EWS digital sebagai pilot project di daerah. Pada beberapa lokasi sungai utama, simulasi sistem peringatan dini telah dilakukan dengan menampilkan data secara real-time. Kemampuan sistem membaca kondisi debit air dan memberikan sinyal dini dinilai sangat membantu proses evakuasi cepat ketika potensi bencana terdeteksi.

Penguatan sistem peringatan dini ini tidak berdiri sendiri. Melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), BPBD bersama berbagai pemangku kepentingan terus mendorong mitigasi berbasis masyarakat. Pendekatan ini dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pra-bencana, saat bencana, hingga pascabencana. Masyarakat dilibatkan langsung, baik dalam pengoperasian alat, pelatihan respon darurat, hingga simulasi kebencanaan di berbagai wilayah.

Di sisi lain, pendidikan kebencanaan juga menjadi fokus penting. BPBD Kota Tidore Kepulauan dinilai konsisten melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah di Pulau Tidore. Upaya ini memperkuat efektivitas EWS di lingkungan pendidikan, sekaligus menanamkan kesadaran mitigasi sejak usia dini. Bahkan, muncul usulan agar disusun buku mitigasi bencana yang dapat disinergikan dengan kurikulum sekolah sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.

Publik pun menaruh harapan besar agar BPBD Kota Tidore Kepulauan terus memantau dan memperbarui sistem EWS secara berkelanjutan. Adaptasi terhadap teknologi yang lebih strategis dinilai penting untuk memastikan akurasi data dan kecepatan distribusi informasi kepada warga.

Di balik berbagai inovasi tersebut, publik juga mencatat kuatnya narasi kebencanaan yang ditanamkan oleh Kepala BPBD Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Abubakar, yang akrab disapa M A. Sebuah pesan sederhana namun bermakna terus digaungkan: “Mari kita jaga alam agar alam menjaga kita.”

Narasi itu bukan sekadar slogan, melainkan refleksi dari pendekatan mitigasi yang menempatkan manusia dan alam dalam satu kesadaran bersama—bahwa kesiapsiagaan bencana sejatinya dimulai dari cara manusia memperlakukan lingkungannya. (@b)

No More Posts Available.

No more pages to load.