Pemuda Tidore dan Arah Masa Depan KNPI

oleh -31 Dilihat
oleh

TIDORE – Musyawarah Daerah (Musda) IV DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tidore Kepulauan resmi dimulai. Forum tertinggi organisasi kepemudaan itu mengusung tema “Navigating the Future: Innovate, Integrate, Impact,” seolah menjadi penanda bahwa pemuda Tidore sedang diajak menatap zaman dengan kepala tegak—bukan sekadar mengikuti arus, tetapi ikut menentukan arah.

Pembukaan Musda dilakukan oleh Kepala BPBD Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Abubakar, yang juga mantan Ketua DPD KNPI periode 2017–2020. Acara akan berlangsung hingga selesai menyesuaikan dinamika yang berkembang, sebuah isyarat bahwa musyawarah bukan sekadar seremoni, melainkan ruang hidup tempat gagasan saling diuji.

Dalam pidatonya, Abubakar—akrab disapa M A—menyebut dinamika organisasi, termasuk munculnya musyawarah tandingan, sebagai hal lumrah dalam dunia kepemudaan. Namun ia menggarisbawahi satu hal mendasar: KNPI di Tidore tetap satu. Karena itu, musyawarah yang sah harus menjadi rujukan bersama, bukan dipertentangkan demi kepentingan sesaat.

Baginya, pemuda adalah jantung perubahan. Mereka bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek yang wajib hadir sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Dari ruang kelas, kampus, komunitas kreatif, hingga lorong-lorong kampung, pemuda dituntut menerjemahkan ide menjadi kerja nyata.

Abubakar juga mengaitkan peran pemuda dengan agenda lebih luas—dari program nasional hingga visi pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Stabilitas sosial, suasana aman, dan kohesi masyarakat, menurutnya, tidak akan tercipta tanpa keterlibatan aktif generasi muda.

Ia memberi perhatian khusus pada isu kebencanaan. Sebagai Kepala BPBD, Abubakar membuka ruang kolaborasi dengan KNPI untuk mengedukasi masyarakat pesisir yang rentan abrasi. “Mari menjaga alam agar alam menjaga kita,” ucapnya, sebuah kalimat sederhana yang menyimpan pesan ekologis mendalam.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya akar sejarah organisasi. Pemuda, katanya, harus memahami fondasi konstitusional dan filosofi perjuangan KNPI agar tidak mudah terseret pragmatisme. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi panggung kosong tanpa ruh.

Soal regenerasi kepemimpinan, M A menegaskan seluruh tahapan harus berjalan sesuai aturan: dari dukungan DPK dan OKP hingga verifikasi pencalonan. Legitimasi, baginya, lahir dari proses yang tertib, bukan dari sorak paling keras.

Ia menilai pemuda Tidore memiliki energi besar yang selama ini telah banyak bersinergi dengan pemerintah daerah. Kritik dan gagasan mereka justru dibutuhkan untuk menajamkan arah kebijakan.

Siapa pun yang kelak terpilih memimpin KNPI, MA berharap lahir program yang membumi menjawab kebutuhan riil pemuda dan masyarakat. “Musyawarah ini cukup satu kali. Yang penting adalah kerja setelahnya, hanya untuk masyarakat,” tegasnya.

Di ujung acara, ia mengajak seluruh elemen pemuda merawat persatuan. Sebab masa depan Tidore, seperti juga masa depan KNPI, tidak ditentukan oleh seberapa panas perdebatan hari ini, melainkan oleh seberapa jauh langkah bersama setelah lampu musyawarah dipadamkan. (@b)

No More Posts Available.

No more pages to load.