Dari Kadato Kie: Sultan Tidore Sematkan Nama “Nurul Aini” kepada Angelina Sondakh

oleh -208 Dilihat
oleh

TIDORE — Siang di halaman Kadato Kie, Kesultanan Tidore, Ahad (29/3/2026), berjalan dalam suasana yang tidak biasa. Hening, namun sarat makna. Di ruang yang menjadi saksi sejarah panjang itu, sebuah nama disematkan bukan sekadar panggilan, melainkan doa dan harapan.

Nama itu diberikan langsung oleh Husain Sjah kepada Angelina Sondakh, yang kini dikenal sebagai ustadzah dan penghafal Al-Qur’an. Nama yang dipilih adalah “Nurul Aini”, yang berarti cahaya mata.

“Nurul Aini, mudah-mudahan dia menjadi cahaya dalam menyebarkan syiar Islam, bukan hanya di Maluku Kie Raha, tetapi hingga ke seluruh dunia,” ujar Sultan, dengan nada tenang.

Pemberian nama tersebut, menurut Sultan, bukan tanpa alasan. Ia melihat ketenangan yang terpancar dari diri Angelina sesuatu yang, menurutnya, lahir dari kedalaman iman.

“Hati tenang terlihat dari mata. Ada cahaya keislaman yang terpancar,” katanya.

Nama sebagai Tafsir

Di lingkungan Kadato Kie, nama memiliki makna lebih dari sekadar identitas. Ia adalah tafsir cara membaca seseorang dari sisi yang tidak kasatmata.

“Nurul Aini” pun dipandang sebagai representasi perjalanan dakwah yang kini dijalani Angelina. Sultan berharap, nama itu menjadi penguat peran dalam menyebarkan nilai-nilai Islam.

“Mudah-mudahan kita doakan menjadi mercusuar bagi dakwah,” ujarnya.

Mengingat Sejarah, Menjaga Warisan

Percakapan di Kadato Kie turut mengalir ke sejarah Kesultanan Tidore. Sultan menyinggung peran dua tokoh besar, Sultan Nuku dan Zainal Abidin Sjah, sebagai bagian dari jejak kepemimpinan yang membentuk identitas Tidore.

Ia juga mengingat peristiwa tahun 1855, saat dua pendeta, Otto dan Geisler, datang meminta izin kepada Sultan Ahmadul Mansyur untuk menyebarkan Injil di Papua, wilayah yang saat itu berada dalam pengaruh Tidore.

Izin itu diberikan, bahkan Kesultanan mengirimkan puluhan perangkat untuk mendampingi mereka.

“Tidak ada paksaan dalam Islam,” kata Sultan, menegaskan nilai toleransi yang telah lama hidup dalam tradisi Kesultanan.

Dakwah dan Harapan Baru

Kunjungan Angelina Sondakh ke Tidore tidak sekadar silaturahmi. Ia membawa misi dakwah, termasuk mendorong lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an.

Kelompok pengajian bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tidore menyampaikan apresiasi atas kehadiran tersebut. Mereka berharap kegiatan itu dapat memberi dampak luas di tengah masyarakat.

“Mudah-mudahan ini bisa menggugah,” ujar salah satu peserta.

Jejak Lama yang Dihidupkan Kembali

Sementara itu, Ishak Naser, selaku Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan, menyebut kunjungan tersebut seperti pulang ke rumah sendiri.

Ia menyinggung hubungan historis antara Tidore, Minahasa, dan Gorontalo dalam pengembangan Islam.

“Hubungan itu sudah pernah ada. Hari ini mungkin kita hanya sedang mengingatnya kembali,” katanya.

Terharu dan Menerima

Angelina Sondakh, yang kini juga dipanggil Ustadzah Nurul Aini, mengaku terharu atas penghormatan yang diberikan.

“Apapun yang baik, insyaAllah saya terima,” ujarnya singkat.

Ia menyebut Tidore sebagai ruang belajar tentang keramahan, toleransi, dan nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

“Hari ini luar biasa,” katanya.

Pesan Penutup

Menutup pertemuan, Sultan menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam.

“Kalau pedang melukai tubuh masih bisa diobati. Tapi kalau lisan melukai, ke mana hendak dicari obatnya,” ujarnya.

Di Kadato Kie, peristiwa itu mungkin akan dikenang bukan karena kemegahannya. Melainkan karena kesederhanaan yang, justru, membuat maknanya bertahan lebih lama. (@b)

No More Posts Available.

No more pages to load.