Dari Aspirasi ke Aksi: Reses Sarmin Mustari di Dokiri Bidik Perempuan dan Pemuda

oleh -123 Dilihat
oleh

TIDORE — Reses bukan sekadar agenda rutin legislator. Di Kelurahan Dokiri, Kecamatan Tidore Selatan, Senin (27/4/2026), ia menjelma menjadi ruang temu antara harapan warga dan kemungkinan kebijakan. Fokusnya jelas: perempuan dan pemuda dua kelompok yang selama ini kerap disebut sebagai tulang punggung masa depan, tetapi belum selalu mendapat ruang yang memadai.

Anggota DPRD Kota Tidore Kepulauan, Sarmin Mustari, hadir menyerap langsung denyut kebutuhan warga. Dalam forum yang berlangsung terbuka itu, aspirasi mengalir tanpa sekat—dari soal ekonomi rumah tangga hingga fasilitas publik yang belum tersentuh.

Beberapa kebutuhan mencuat sebagai prioritas. Di sektor ekonomi, kelompok muda mendorong dukungan nyata untuk pengembangan usaha. Mulai dari barbershop, katering, hingga keterampilan teknis seperti pertukangan dan perbengkelan. Bagi mereka, modal usaha dan sarana produksi bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Di sisi lain, ruang-ruang publik juga menjadi perhatian. Lapangan sepak bola Kelurahan Dokiri diusulkan untuk dikembangkan sebagai wadah aktivitas pemuda. Tak hanya itu, pembangunan bak sampah dinilai penting untuk menjawab persoalan lingkungan yang kian terasa di permukiman.

Aspirasi lain yang tak kalah kuat adalah kebutuhan akan gedung pemuda—sebuah ruang bersama yang diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan, kreativitas, hingga pembinaan generasi muda. Sementara di sektor pertanian, muncul dorongan pengembangan usaha hidroponik bagi petani milenial, sebagai upaya menjawab tantangan keterbatasan lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Sarmin Mustari, yang akrab disapa Nobon, menyebut seluruh aspirasi tersebut telah dicatat sebagai bagian dari tanggung jawab politiknya.

“Segala keluhan warga sudah saya dengarkan. Insyaallah akan kita usahakan bersama-sama,” ujarnya singkat, namun menegaskan komitmen.

Bagi Nobon, reses bukan sekadar mendengar, tetapi juga memastikan ada tindak lanjut. Ia berharap pertemuan ini tidak berhenti sebagai daftar keinginan, melainkan menjadi pintu masuk bagi realisasi program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Di Dokiri, reses kali ini memberi satu pesan penting: ketika perempuan dan pemuda diberi ruang untuk bicara, yang muncul bukan sekadar keluhan, melainkan peta jalan pembangunan dari bawah yang jika ditangkap dengan serius, bisa menjadi arah baru bagi kebijakan daerah.(@b)

No More Posts Available.

No more pages to load.