84 Putra Terbaik Maluku Utara Ikuti Pendidikan Bintara Polri, Tidore Titip Pesan Jaga Nama Daerah dan Orang Tua

oleh -196 Dilihat
oleh

TIDORE, — Wali Kota Tidore Kepulauan yang diwakili Staf Ahli Wali Kota Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan, Abdul Hakim Adjam, menghadiri Upacara Pembukaan Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Tahun Anggaran 2026 di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Maluku Utara, Kelurahan Gurabati, Senin (20/7/2026).

Upacara pembukaan dipimpin langsung oleh Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Arif Budiman, S.I.K., M.H., dengan mengusung tema “Membangun Ketangguhan Pendidikan Polri yang Berbasis Moral dan Literasi untuk Mendukung Program Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi yang Produktif serta Inklusif.”
Sebanyak 84 calon siswa dari berbagai kabupaten dan kota di Maluku Utara resmi memulai pendidikan pembentukan Bintara Polri yang akan berlangsung selama lima bulan. Mereka merupakan putra-putra terbaik daerah yang telah melalui tahapan seleksi sebelum dinyatakan berhak mengikuti pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Hakim Adjam menyampaikan pesan khusus kepada seluruh peserta didik, terutama para calon siswa yang berasal dari Kota Tidore Kepulauan. Ia meminta mereka menjaga semangat, disiplin, serta nama baik daerah dan keluarga selama menjalani pendidikan.
“Jadilah siswa yang benar-benar mengikuti pendidikan bintara ini hingga selesai. Serap seluruh ilmu yang didapatkan agar ke depan dapat diterapkan kepada masyarakat Maluku Utara, khususnya di Kota Tidore Kepulauan. Jangan pernah mengecewakan daerah ini maupun orang tua. Ingat, tetap semangat dalam mengikuti pendidikan ini,” pesan Abdul Hakim.
Menurutnya, pendidikan kepolisian bukan sekadar proses akademik dan pelatihan fisik, tetapi juga menjadi momentum pembentukan karakter calon anggota Polri yang nantinya akan menjadi pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat.
Sementara itu, amanat Kapolri yang dibacakan Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Arif Budiman menegaskan bahwa pendidikan pembentukan Bintara Polri merupakan program strategis untuk memperkuat kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat serta mendukung pelaksanaan tugas Polri di seluruh wilayah Indonesia.
Kapolda menekankan bahwa pendidikan tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai proses perubahan status menjadi anggota Polri, melainkan sebagai proses transformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, karakter, mental, dan budaya kerja.
“Setiap peserta didik harus keluar sebagai insan Bhayangkara yang profesional, bermoral, dan siap mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Kapolda membacakan amanat Kapolri.
Ia menjelaskan, secara nasional Pendidikan Pembentukan Bintara Polri Berkemampuan Khusus (Bakomsus) tahun ini diikuti 4.799 peserta didik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 709 peserta perempuan mengikuti pendidikan di Sepolwan Lemdiklat Polri, sementara 4.090 peserta laki-laki menjalani pendidikan di 31 SPN Polda di seluruh Indonesia.
Kapolda juga menyoroti pentingnya tema pendidikan tahun ini yang menempatkan moralitas dan literasi sebagai fondasi utama dalam pembentukan anggota Polri. Menurutnya, personel Polri masa depan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis dan fisik yang baik, tetapi juga ketajaman moral, kematangan berpikir, serta kemampuan memahami dinamika lingkungan strategis guna mendukung program pemerintah dan Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
“Moral dan integritas harus menjadi fondasi utama bagi setiap insan Bhayangkara. Kewenangan kepolisian yang tidak disertai moral dan integritas dapat berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan dan mencederai kepercayaan masyarakat terhadap Polri,” tegasnya.
Kepada para kepala SPN, tenaga pendidik, instruktur, pengasuh, dan tenaga kependidikan, Kapolda turut mengingatkan agar proses pendidikan dilaksanakan secara profesional, berorientasi pada mutu lulusan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
“Terapkan disiplin secara tegas, adil, dan konsisten. Hindari segala bentuk kekerasan, perundungan, penghukuman yang merendahkan martabat, serta tindakan lain yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Kapolda juga menegaskan bahwa pendidikan yang keras tidak identik dengan kekerasan.
“Pendidikan yang keras tidak harus kasar. Latihan yang berat tidak boleh kehilangan martabat. Ketegasan harus membentuk karakter, bukan menumbuhkan dendam. Tekanan latihan harus memperkuat daya juang, bukan merusak fisik dan mental peserta didik,” tandasnya.
Upacara pembukaan berlangsung khidmat dan penuh haru. Kegiatan ditutup dengan prosesi penyiraman air kembang kepada perwakilan siswa oleh pimpinan upacara, yang kemudian dilanjutkan dengan penyiraman air kembang oleh para orang tua kepada anak-anak mereka sebagai simbol doa dan harapan untuk keberhasilan selama menjalani pendidikan.(@b) 

No More Posts Available.

No more pages to load.