Tiga Pemuda Togutil Kibarkan Merah Putih di Pedalaman Halmahera

oleh -890 Dilihat
oleh

TIDORE  – Ada cerita tentang Indonesia yang barangkali luput dari hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan di kota-kota. Cerita itu datang dari Sungai Woda, Desa Woda, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Di tengah pedalaman Halmahera, sekitar 200 masyarakat adat Suku Togutil bersama warga lokal Desa Woda berkumpul pada Senin (17/8/2026). Mereka mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak ada kemeriahan seperti yang biasa terlihat di pusat kota. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting: Merah Putih berkibar di sana. Pengibarnya adalah tiga putra Suku Togutil, Edi, Dedi, dan Bohe. Ketiganya mendapat kepercayaan menjalankan tugas yang mungkin terlihat sederhana, tetapi punya arti besar bagi masyarakat yang hadir pagi itu. Mereka berdiri tegap. Mengibarkan Sang Merah Putih hingga berkibar sempurna di tengah alam pedalaman Halmahera. Momen itu menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak berhenti di kota. Indonesia juga hidup di tempat-tempat yang jauh dari pusat pemerintahan, jauh dari keramaian, bahkan jauh dari akses yang mudah. Tiga Hari Keluar dari Hutan Ada perjalanan panjang di balik upacara tersebut. Sebagian masyarakat adat Togutil yang tinggal jauh di kawasan hutan telah keluar dari wilayah hutan tiga hari sebelum upacara dilaksanakan. Mereka kemudian berjalan kaki menuju Sungai Woda. Medannya tidak mudah. Jaraknya pun tidak dekat. Tetapi mereka tetap datang. Bukan semata karena ingin mengikuti sebuah seremoni tahunan, melainkan karena ingin merayakan hari kemerdekaan bersama masyarakat lainnya. Di sini, kemerdekaan menemukan maknanya yang lain. Ia tidak hanya hadir dalam pidato dan upacara. Ia hadir dalam langkah kaki masyarakat yang menempuh perjalanan dari pedalaman agar dapat berdiri bersama di bawah satu bendera. Ketika Merah Putih Berkibar di Pedalaman Puncak peringatan berlangsung ketika Edi, Dedi, dan Bohe menjalankan tugas sebagai pengibar bendera. Ketiganya adalah putra Suku Togutil. Ketika Merah Putih perlahan mencapai ujung tiang, ratusan pasang mata menyaksikan. Bendera itu akhirnya berkibar. Di tengah alam Halmahera, sebuah simbol negara hadir dengan cara yang sederhana. Tetapi justru karena kesederhanaan itu, momen tersebut terasa kuat. Sebab dari tempat yang jauh dari kota, masyarakat Togutil menunjukkan bahwa rasa memiliki terhadap Indonesia tidak ditentukan oleh alamat, jarak, maupun kondisi geografis. “Jauh dari Kota, Dekat dengan Indonesia” Nurhadi, M.Pd., Kepala Perwakilan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara, bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, ia menyampaikan pesan tentang Indonesia yang tidak boleh berjarak dengan rakyatnya. “Jauh dari kota bukan berarti jauh dari Indonesia. Di tempat ini, di tengah hutan Halmahera, kita tetap berada di bumi Indonesia,” kata Nurhadi. Ia menegaskan, Indonesia bukan hanya milik masyarakat yang tinggal di perkotaan. “Indonesia bukan hanya milik orang yang tinggal di kota. Indonesia juga milik masyarakat adat Togutil yang hidup di pedalaman Halmahera. Merah Putih juga berkibar di sini,” ujarnya. Pesan berikutnya ditujukan kepada generasi muda Suku Togutil. Nurhadi meminta mereka terus belajar, membangun cita-cita dan membuka pandangan terhadap dunia, tanpa meninggalkan identitas dan kearifan lokal. “Tempat tinggal boleh di pedalaman, tetapi masa depan tidak boleh di pedalaman. Boleh tinggal jauh dari kota, tetapi pikirannya harus mampu menjangkau dunia,” katanya. Kalimat itu menjadi semacam jembatan. Bahwa pedalaman tidak semestinya menjadi batas bagi masa depan. Kepala Suku Togutil: Kami Bahagia Papa Sangaji, kepala Suku Togutil, menyambut bahagia peringatan HUT Kemerdekaan RI tersebut. Bagi masyarakat adat, kesempatan mengikuti upacara bersama warga Desa Woda dan berbagai unsur lainnya merupakan pengalaman yang berharga. Apalagi tiga putra mereka dipercaya menjadi pengibar bendera. Ada kebanggaan di sana. Tetapi lebih dari itu, ada perjumpaan. Masyarakat adat dan masyarakat lokal bertemu dalam satu ruang yang sama. Mereka merayakan kemerdekaan tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. Banyak Tangan untuk Satu Upacara Upacara di Sungai Woda juga memperlihatkan bahwa menghadirkan perayaan kemerdekaan di pedalaman membutuhkan kerja bersama. BMH Maluku Utara, TNI, Polri, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Pemerintah Desa Woda, SD di Desa Woda, tokoh agama, masyarakat lokal, masyarakat adat Suku Togutil, serta para relawan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Sertu Fahrir Bima, Babinsa Bale Koramil 1505-04/Oba, Kodim 1505/Tidore, Korem 152/Babullah, bertindak sebagai komandan upacara. Sementara Bripka Muhamad Hamka Sukiman, Bhabinkamtibmas Desa Woda, Polsek Oba, Polresta Tidore, menjadi pemimpin upacara. Saleh Ibrahim dari Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata memberikan apresiasi atas pelaksanaan upacara. “Upacara kali ini sangat teratur dan penuh hikmat,” ujarnya. Indonesia Ada di Sana Pada akhirnya, upacara di Sungai Woda bukan sekadar agenda memperingati 17 Agustus. Ada perjalanan masyarakat Togutil dari kawasan hutan. Ada tiga pemuda yang berdiri sebagai pengibar bendera. Ada aparat, pemerintah desa, sekolah, tokoh agama, relawan, masyarakat lokal dan berbagai pihak yang memilih hadir. Semuanya bertemu dalam satu nama: Indonesia. Di tempat yang jauh dari pusat kota, Merah Putih justru menunjukkan maknanya dengan sangat jelas. Bahwa kemerdekaan bukan milik mereka yang tinggal di pusat-pusat keramaian. Kemerdekaan juga milik masyarakat adat yang hidup di pedalaman Halmahera. Dan pada 17 Agustus 2026, Sungai Woda menjadi saksi. Merah Putih berkibar. Tiga putra Togutil mengibarkannya. Dari pedalaman Halmahera, sebuah pesan sederhana pun sampai: Jauh dari kota, tetapi dekat dengan Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.(@b)

No More Posts Available.

No more pages to load.