Maulid Nabi di Babul Jannah, Kemenag Tidore Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah

oleh -295 Dilihat
oleh

TIDORE – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah di Masjid Babul Jannah, Kelurahan Tuguwaji, Kota Tidore Kepulauan, menjadi momentum untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Mengusung tema “Momen Maulid Nabi Mempererat Ukhuwah Sesama Jamaah Sekaligus Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad SAW”, kegiatan yang dilaksanakan oleh Takmir Masjid Babul Jannah itu tidak sekadar menjadi peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tidore Kepulauan, Hi. Lukman Uddin Abdurahman, S.Fil., M.H., saat diwawancarai media ini mengatakan, substansi terpenting dari peringatan Maulid Nabi adalah bagaimana umat Islam mampu menyelamatkan diri melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW dapat dimulai dari cara seseorang menjaga sikap dan lisannya, terutama agar tidak menyakiti orang lain.
“Hal yang paling substansi adalah mari kita menyelamatkan diri kita dengan hal-hal sederhana, dengan menjaga sikap dan lisan kita, dengan mencontohi Baginda Muhammad SAW. Tidak menyakiti orang lain, dimulai dari keluarga terkecil maupun pada masyarakat,” ujar Lukman.
Ia menilai, sikap tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang seimbang, aman dan nyaman.
Tidak berhenti pada persoalan menjaga sikap dan lisan, Lukman juga mengajak masyarakat melihat bagaimana Rasulullah SAW membangun sebuah komunitas dalam bingkai persaudaraan.
Menurut dia, persaudaraan yang dibangun Nabi Muhammad SAW merupakan teladan penting yang perlu dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama melalui akhlakul karimah.
“Bagaimana kita melihat contoh Rasulullah Muhammad SAW, bagaimana membangun sebuah komunitas dalam bingkai persaudaraan, dengan mempertahankan akhlakul karimah, mempertahankan situasi aman dan nyaman,” katanya.
Lukman mengingatkan, kehadiran Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata membawa risalah keagamaan, tetapi juga menyempurnakan akhlak manusia.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Al-Baihaqi dan Ahmad).
Menurutnya, pesan tersebut relevan untuk terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Sebab, ukuran keberagamaan tidak hanya terlihat dari ibadah secara personal, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan sesama.
“Sebagaimana kita lihat bahwa kehadiran Baginda Muhammad Rasulullah SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak dalam kehidupan kita,” ujarnya.
Selain itu, Lukman juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Karena itu, menurut Lukman, semangat Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Nilai-nilai rahmat, persaudaraan, kasih sayang dan akhlak mulia harus hadir dalam kehidupan masyarakat.
Maulid dan Musim Kemarau
Dalam kesempatan tersebut, Lukman juga mengaitkan momentum Maulid Nabi dengan kondisi musim kemarau dan cuaca yang terjadi saat ini.
Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak istighfar dan bertaubat.
Lukman mengingatkan firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia.
“Melalui bulan kelahiran Nabi ini saya mengajak, mari kita lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT,” katanya.
Menurutnya, kondisi kemarau juga harus menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan introspeksi terhadap hubungan dengan Allah SWT maupun terhadap lingkungan.
Lukman menyebut, sebelumnya Kementerian Agama bersama berbagai elemen telah melaksanakan Salat Istisqa secara serentak sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan.
Ia berharap gerakan tersebut juga dapat dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat.
“Alhamdulillah, kemarin juga kami telah melaksanakan Salat Istisqa secara serentak. Mudah-mudahan seluruh elemen masyarakat juga melaksanakan hal yang sama agar kondisi ini bisa kita lewati,” ungkapnya.
Baginya, doa dan ikhtiar merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan, sementara Allah SWT adalah tempat bergantung dan memohon pertolongan.
“Sebagai insan, sebagai hamba tentunya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT. Semoga musim panas ini bisa disudahi dengan datangnya hujan,” tuturnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Babul Jannah Kelurahan Tuguwaji pun diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah antarjamaah, menjaga kerukunan, serta menghadirkan kembali akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, di tengah kehidupan sosial yang terus bergerak, pesan Maulid Nabi tetap sederhana: menjaga lisan, memperbaiki sikap, mempererat persaudaraan, dan menjadi rahmat bagi sesama.(@b) 

No More Posts Available.

No more pages to load.