BPBD Tidore Gandeng ORARI dan RAPI Edukasi Komunikasi Darurat Saat Bencana

oleh -197 Dilihat
oleh

TIDORE – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tidore Kepulauan terus memperkuat langkah mitigasi bencana. Salah satunya dengan menggandeng Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kota Tidore Kepulauan.

Pertemuan bersama anggota ORARI dan RAPI tersebut berlangsung di Aula BPBD Kota Tidore Kepulauan, Kamis (10/9/2026). Pertemuan itu membahas sosialisasi penggunaan Handy Talky (HT) serta pengenalan callsign dan alfabet dalam komunikasi radio.

Mohammad Abubakar, yang akrab disapa M.A, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi komunikasi dalam menghadapi kondisi kedaruratan.

“Izin Ayah, Abang dan Pak Sekot, dalam hal ini Pak Wali Kota, Wakil Wali Kota dan Sekkot. M.A mengawali permohonan izin dalam wawancara singkat usai pertemuan,” ujar M.A mengawali keterangannya.

Menurut M.A, mitigasi awal merupakan bagian penting dalam menghadapi potensi bencana. Langkah tersebut tetap harus dilakukan meskipun pemerintah daerah saat ini berada dalam kondisi efisiensi anggaran.

“Mitigasi awal adalah hal paling penting, sekalipun saat ini kita berada dalam kondisi efisiensi,” katanya.

M.A juga menyampaikan bahwa Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, selalu mengingatkan para kepala dinas agar dalam menjalankan tugas tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.

Ia menyebut pesan tersebut menjadi pegangan bagi jajaran pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Ayah Wali Kota Tidore, Muhammad Sinen, selalu mengingatkan kepada kami sebagai kepala dinas agar mengutamakan kepentingan untuk rakyat,” ujarnya.

Muhammad Sinen, kata M.A, juga selalu mengingatkan bahwa masyarakat memiliki posisi utama dalam pelayanan pemerintahan.
“Muhammad Sinen mengingatkan kepada kami bahwa rakyat adalah raja dan kita ini adalah pelayan,” katanya.

Lebih lanjut, M.A menjelaskan komunikasi radio memiliki peran penting dalam situasi kebencanaan. Terutama ketika terjadi gangguan terhadap jaringan telekomunikasi seluler.

Apabila terjadi gempa bumi berskala besar yang menyebabkan jaringan Telkomsel maupun jaringan telekomunikasi lainnya terputus, HT dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung komunikasi dan koordinasi di lapangan.

“Edukasi ini terkait kedaruratan. Apabila Telkomsel terputus karena terjadi gempa berskala besar, maka komunikasi HT menjadi alternatif yang bisa digunakan,” jelasnya.

Karena itu, menurut M.A, pemahaman mengenai penggunaan perangkat komunikasi radio perlu terus ditingkatkan. Tidak hanya bagi komunitas radio, tetapi juga masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.

Komunikasi, kata dia, menjadi salah satu bagian penting dalam memastikan penyampaian informasi dan koordinasi tetap berjalan ketika terjadi keadaan darurat.

Selain penggunaan HT, pertemuan tersebut juga membahas pengenalan callsign serta alfabet yang digunakan dalam komunikasi radio. Pengetahuan tersebut dinilai penting agar komunikasi dapat berlangsung secara efektif, khususnya ketika berada dalam kondisi kedaruratan.

Di akhir keterangannya, M.A kembali mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Selalu jaga alam agar alam jaga kita,” pesannya.
Pertemuan BPBD bersama ORARI dan RAPI Kota Tidore Kepulauan ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan serta membangun sistem komunikasi alternatif ketika terjadi bencana di wilayah Kota Tidore Kepulauan.(@b)

No More Posts Available.

No more pages to load.