Tidore Perkuat Konservasi Pala dan Cengkeh, Warisan Leluhur Jadi Perhatian

oleh -232 Dilihat
oleh

TIDORE – Pemerintah Kota Tidore Kepulauan mendorong penguatan konservasi pala dan cengkeh sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat sumber penghidupan masyarakat.

Pala dan cengkeh dinilai bukan sekadar komoditas pertanian. Kedua tanaman rempah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, budaya, ekonomi hingga kelestarian lingkungan di Maluku Utara.

Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman saat membuka Forum Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Genetik Lintas Sektor di Ruang Rapat Wali Kota Tidore Kepulauan, Selasa (15/9/2026).

Menurut Ahmad, sejarah Maluku Utara tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pala dan cengkeh. Komoditas tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulu dan ikut membentuk identitas wilayah.
“Pala dan cengkeh adalah kekayaan warisan leluhur. Tanggung jawab kita memastikan kekayaan ini tidak hilang dan tetap bermanfaat bagi anak cucu,” kata Ahmad.
Ia menilai upaya konservasi harus dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan masyarakat serta tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, forum koordinasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembahasan maupun menghasilkan dokumen semata. Pemerintah ingin forum itu melahirkan langkah konkret yang dapat dilaksanakan bersama lintas sektor.
“Siapa melakukan apa, di mana lokasinya, bagaimana pendanaannya, serta bagaimana keberlanjutannya. Forum ini harus menghasilkan kesepakatan yang bisa kita implementasikan bersama,” tegasnya.

Ahmad mengatakan konservasi pala dan cengkeh harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Sebab, keberadaan kedua komoditas tersebut tidak hanya menyangkut aspek ekonomi, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat, lingkungan dan warisan daerah.
“Mari jadikan forum ini momentum membangun sistem konservasi yang terintegrasi, berbasis masyarakat, ramah lingkungan, dan memberi manfaat ekonomi,” pungkasnya.

Fokus Pala dan Cengkeh

Sementara itu, National Project Manager (NPM) proyek CDCSUI (Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia), Sudarsono, mengatakan pelestarian sumber daya genetik menjadi penting karena memiliki dampak langsung terhadap kehidupan manusia dan keberlangsungan alam.
“Karena keberadaannya memiliki dampak yang sangat besar dan berkaitan langsung dengan kehidupan serta keberlangsungan alam,” jelasnya.
Menurut Sudarsono, Indonesia memiliki keragaman sumber daya genetik (SDG) yang luar biasa. Sebagian di antaranya bahkan memiliki permintaan tinggi di pasar domestik maupun internasional.
Ia menyebut sejumlah sumber daya genetik yang selama ini dianggap sederhana justru memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di pasar global.

Khusus di Tidore Kepulauan, CDCSUI memfokuskan perhatian pada komoditas pala dan cengkeh. Program tersebut diarahkan untuk menjaga keberadaan sumber daya genetik kedua tanaman rempah itu agar tetap lestari sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Untuk Tidore, fokus CDCSUI adalah pala dan cengkeh. Kami hadir untuk bersama-sama membangun dan menjaga agar sumber daya genetik pala dan cengkeh tetap terpelihara, punya nilai ekonomi, dan bisa diwariskan ke generasi mendatang,” ungkap Sudarsono.

Forum tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan Ismail Dukomalamo, Jo Jau Kesultanan Tidore Ishak Naser, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku Utara Dr. Warsita, S.P., M.M., Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Taher Husain serta sejumlah pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan.(@b) 

No More Posts Available.

No more pages to load.