TIDORE — Ada yang terasa lain dari langkah awal yang diambil Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Tidore Kepulauan tahun ini. Tidak lagi sekadar menunggu rekomendasi atau mengandalkan nama-nama lama, Askot memilih membuka pintu selebar-lebarnya bagi talenta muda melalui seleksi terbuka, sebagai fondasi membangun tim menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Maluku Utara 2026.
Seleksi perdana itu mulai digelar di Stadion Marimoi, Kelurahan Tuguwaji, yang ditetapkan sebagai pusat pelaksanaan Zona I untuk wilayah Pulau Tidore. Sebanyak 36 pemain ambil bagian pada hari pertama—angka yang mungkin tidak besar, tetapi menyimpan harapan tentang kualitas yang sedang dicari.
Ketua Askot PSSI Kota Tidore Kepulauan, Ardiansyah Fauji, menyebut para peserta merupakan representasi awal dari potensi muda yang akan terus disaring dalam tahapan berikutnya.
“Ada kurang lebih 36 pemain potensial yang mengikuti seleksi di hari pertama,” ujarnya.
Namun, yang membuat langkah ini berbeda bukan hanya pada angka, melainkan pada sistem yang dibangun. Askot membagi proses seleksi ke dalam tiga zona, menjangkau wilayah yang selama ini kerap luput dari radar pembinaan.
Zona I Pulau Tidore berlangsung pada 27–29 Maret 2026. Sementara Zona II mencakup Oba dan Oba Tengah pada 12–13 April, dan Zona III untuk Oba serta Oba Selatan pada 14–15 April 2026.
Dengan skema ini, Askot berupaya memastikan tidak ada bakat yang tertinggal hanya karena batas geografis.
“Kita menggunakan sistem seleksi terbuka dalam tiga zona dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua talenta muda guna mengisi slot kerangka tim terbaik Persikota Tidore pada Kejuaraan Porprov 2026,” kata Ardiansyah.
Seleksi terbuka, menurutnya, bukan sekadar formalitas. Ini adalah cara untuk menegaskan bahwa tim yang akan dibentuk benar-benar lahir dari kompetisi yang sehat—di mana pemain dipilih karena kualitas, bukan kedekatan.
Di lapangan, para pemain tampak diuji tidak hanya dari sisi teknik, tetapi juga mental dan daya tahan. Tim pelatih mengamati detail kecil: sentuhan pertama, keputusan di ruang sempit, hingga cara pemain membaca permainan.
Untuk mengawal proses ini, Askot telah menunjuk jajaran pelatih yang relatif muda namun berpengalaman. Mukhlis Ohoirat dipercaya sebagai pelatih kepala, didampingi Iskandar Ahmad dan Alief Lam Akhmady sebagai asisten pelatih, serta Hayatudin Ishak untuk posisi pelatih kiper.
Di balik semua itu, target tetap menjadi penanda arah. Askot tidak sekadar ingin hadir di Porprov, tetapi juga berbicara banyak.
“Target kita lolos dan menjuarai Porprov Maluku Utara 2026 sesuai harapan Bapak Wali Kota Tidore dan semua masyarakat pecinta sepak bola di Kota Tidore Kepulauan,” tegas Ardiansyah.
Langkah ini mungkin baru awal. Tetapi dari Stadion Marimoi, Askot PSSI Tidore Kepulauan sedang mengirim pesan: bahwa membangun prestasi tidak selalu harus dimulai dari yang besar, melainkan dari cara yang benar.(@b)









